Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Muhammad Miftah Faridl : Qari' Remaja yang Menginspirasi



Ada yang menarik dari acara Peringatan Nuzulul Qur’an di Istana negara beberapa waktu lalu. Selain mendatangkan ulama besar Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, yang juga mengundang perhatian adalah Qari’cilik yang tampil begitu indah menawan dan membuat Presiden Jokowi terharu.  Lantunan kalam ilahi dibawakan dengan begitu merdu, syahdu dan merasap ke dalam relung-relung qolbu. Ya, Qari’ cilik itu bernama Muhammad Miftah Faridl.

Qari’ yang masih belia ini merupakan Juara Terbaik MTQ Nasional Kategori Qari’ Cilik yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2016 silam. Ananda Miftah Farid merupakan kafilah dari Provinsi DKI Jakarta.


Pada  beberapa waktu yang lalu, ananda Muhammad Miftah Faridl juga berkesempatan tampil dihadapan orang nomor satu di Brunai Darussalam, Sultan Hasanal Bolkiah. Foto-foto-nya bersama Sultan ini dibagikan di salah satu akun media sosial ananda Miftah sebagai bahan 
inspirasi.

(Foto ananda Miftah Faridl bersama Sultan Brunai Darussalam)

Caption yang ditulis ananda Miftah pada foto di atas sungguh luar biasa. Begini caption beliau :
“Tugas sudah selesai. Alhamdullilahi robbil ‘Alamin.. berkah al Qur’an kami dapat dipertemukan dalam sebuah acara terhormat di Satu Negeri  yang rakyatnya mayoritas Muslim. Setelah ngobrol-ngobrol2 “Sultan, ada salam dari seluruh rakyat Indonesia” kutip saya “wa ‘alaikum salam Warohmatullohi wa Barokatuh”. Jawab Sultan. Smoga Allah dapat mempertemukan kami di lain waktu, Amin.”

Sungguh luar biasa. Bi barokatil Qur’an. Ananda Muhammad Miftah Faridl yang lahir di Bontang bukan tidak mungkin akan menjadi Qari’ yang mendunia. Mensyiar’kan Al Qur’anul karim ke seluruh penjuru. Mengingat usianya yang sangat belia. Kita doakan kelak ia menjadi ulama besar di negeri ini.

Dan pada bulan Ramadhan ini, Muhammad Miftah Faridl yang lahir di Kabupaten Bontang, Kalimantan Timur ini juga mengikuti ajang “Semesta Bertilawah” yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi swasta nasional. Remaja 14 tahun ini bersama beberapa sahabatnya mewakili Pondok Pesantren Al Kautsar Jakarta. Miftah bersama team-nya mendapatkan predikat terbaik atau juara pertama.

Remaja dan anak-anak muda Indonesia mungkin punya banyak idola macam artis sinetron atau penyanyi bertalenta. Namun sebagai remaja dan pemda Muslim, kita juga butuh sosok teladan dan inspirasi. Ananda Muhammad Miftah Faridl layak menjadi inspirasi, khususnya  bagi adik-adik remaja yang memiliki ghiroh cinta pada Al Qur’an.

Dan harapan kita, pada satu abad Indonesia di tahun 2045, akan tampil pemimpin-pemimpin bangsa yang hafal dan dekat dengan Al Qur’an.


Source foto dan video : Instgram sb_miftahfaridl dan youtube


Adi Esmawan, Muhibbul Qur’an StudiClub.




PETUAH SEDERHANA : “IJHAD WALA TAKSAL”

Siapa sih sebenarnya musuh utama bagi para pencari ilmu? Kita pasti sepakat, bahwa monster yang menjadi penghalang bagi para tholib alias pelajar, peserta didik, mahasiswa adalah rasa malas.

Karena malas adalah penghalang  prestasi. Malas adalah penghambat kemajuan. Jangan berharap ingin sukses dunia akhirat kalau masih memelihara  sikap malas. Apalagi, gagdet  dan hiburan tidak produktif lainnya selalu mengiming-imingi kita agar lebih banyak bermalas-malasan daripada belajar, berkarya, dan berusaha.

Ada sebuah maqolah atau kata nasehat  sederhana berbahasa Arab :
“Ijhad wala taksal, walatakughofilan, fanadamatul nguqba, liman yatakasal”

(Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas, dan jangan pula lengah/lalai. Karena penyesalan hanya bagi orang yang malas)

Sederhana memang. Tapi sulit dipraktekan. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala sesuatu adalah keharusan. Dan kita semua tahu itu. Tapi, kesungguhan kita seringkali pudar bahkan hilang akibat godaan-godaan pikiran yang mengacaukan segalanya. Bahasa anak sekarang : gagal fokus.

Nah, ayo, pulihkan kembali kesungguhan kita dalam mencari ilmu. Karena ilmu yang akan menjadi brand atau lebel pada diri seseorang. Ingat, ilmu ya, bukan ijazah.

Jangan lupa, tanggung jawab ilmu ada pada amaliahnya, bukan ilmiahnya. Jadi ilmu itu akan diukur dari segi praktiknya, seberapa besar manfaatnya bagi  hidup dan kehidupan.
Ijhad wa taksal!


Adi Esmawan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
| - | |